musik Emo (emotional) begitu dekat dengan remaja generasi baru, apalagi mulai muncul pada periode 1990-an. Malah bisa dibilang amat dekat dengan karakter sikap anak muda sekarang yang lebih berani menentukan identitas lifestyle di tengah-tengah keluarga.
Konsep Emo melakukan perbedaan tajam dengan masa lalu, termasuk perlawanan dari luar dirinya yang semakin rumit dan banyak. Mereka kian sulit buat berpura-pura, dan sekaligus makin total dalam berekspresi, termasuk dengan cara berpakaian, berpenampilan, hingga bertutur kata.
Dari sisi itu, musik Emo yang jadi bagian genre punk hardcore dirasa selaras dengan kemauan dan hasrat bersosialisasi kaum muda saat kini. Ciri konsep Emo kebetulan juga mirip dengan perubahan minat anak muda saat mendengar ingar-bingar kekerasan musik Metal, yang kini berubah akrab dengan kehadiran band-band Nu Metal.
Adapun keakraban remaja sekarang dengan Emo, tambah terdukung lantaran beberapa band internasional yang bergenre semacam itu tengah digandrungi, utamanya adalah My Chemical Romance, Yellowcard dan Dashboard Confenssional.
Unjuk Diri
Ihwal band Emo yang lengkap dengan pembawaan lifestyle dari ujung rambut sampai model sepatu, cenderung diikuti para pemujanya di Indonesia. Namun, beberapa band Emo lokal, kelihatan tak terlalu jauh mau terinspirasi sampai ke sana.
Apalagi dalam hal penampilan di atas panggung atau di muka umum.
Akan tetapi, saat melihat penampilan Oxxy 63 pada saat peluncuran album perdana, Charetz ‘06 di Hard Rock Cafe, minggu lalu - ketiga personelnya seakan ingin unjuk diri selaku pemusik Emo sejati, yang tak sekadar bersuara Emo, namun juga berpenampilan lifestyle Emo.
Seorang wartawati langsung menyebut penampilan mereka anak muda banget. Mungkin memang begitu kenyataan saat ini ketika anak muda seperti terwakili dengan gaya atau dandanan sejenis itu.
Oxxy 63 terdiri dari Daus (vokal), Davis (gitar) dan Arie (drum) ditambah dengan basis Reza sebagai pemain pendukung. Oxxy 63 resmi berdiri di Bandung pada 30 Maret tahun lalu. Mereka menyebut kelengkapan genre musiknya sebagai Pop Emotional Melodic.
Kenapa memakai nama Oxxy, dimaksudkan mereka sebagai bagian kebanggaan kaum lelaki (pejantan: bahasa latin). Tentang imbuhan angka 63 atau sixty three diartikan dari tanggal lahir, bulan dan tahun kelahiran Oxxy yakni tanggal 30 bulan 3 tahun ‘06.
Menurut mitos mereka, tanggal tersebut diapit oleh dua pergantian tahun atau tahun baru. Tanggal 29 Maret merupakan pergatian tahun China, dan tanggal 31 Maret adalah pergantian tahun baru Hijriah. Maka ”30-03-06” adalah unsur angka 3 dan 6, namun oleh mereka sengaja dibalikkan jadi 63.
Untuk album perdananya, mereka menghadirkan sebelas lagu, salah satunya adalah ”Memori Bangku Taman” yang bermaksud memantapkan kepekatan performa musik mereka yang ternyata mampu menembus kisi-kisi universalitas.
Namun, di balik itu mereka juga berhasrat memainkan ciri easy listening yang mudah dikenali publik melalui lagu andalan kedua,”Ambisi Sesaat” dan ”Kucing”.
Mengenai tajuk album Charetz ‘06, mereka menghubungkannya dengan ikon pohon karet yang berada di halaman depan gedung sekolah SMA Negeri 2 Bandung, tempat dulu mereka pernah menimba ilmu pengetahuan. (john js)
Konsep Emo melakukan perbedaan tajam dengan masa lalu, termasuk perlawanan dari luar dirinya yang semakin rumit dan banyak. Mereka kian sulit buat berpura-pura, dan sekaligus makin total dalam berekspresi, termasuk dengan cara berpakaian, berpenampilan, hingga bertutur kata.
Dari sisi itu, musik Emo yang jadi bagian genre punk hardcore dirasa selaras dengan kemauan dan hasrat bersosialisasi kaum muda saat kini. Ciri konsep Emo kebetulan juga mirip dengan perubahan minat anak muda saat mendengar ingar-bingar kekerasan musik Metal, yang kini berubah akrab dengan kehadiran band-band Nu Metal.
Adapun keakraban remaja sekarang dengan Emo, tambah terdukung lantaran beberapa band internasional yang bergenre semacam itu tengah digandrungi, utamanya adalah My Chemical Romance, Yellowcard dan Dashboard Confenssional.
Unjuk Diri
Ihwal band Emo yang lengkap dengan pembawaan lifestyle dari ujung rambut sampai model sepatu, cenderung diikuti para pemujanya di Indonesia. Namun, beberapa band Emo lokal, kelihatan tak terlalu jauh mau terinspirasi sampai ke sana.
Apalagi dalam hal penampilan di atas panggung atau di muka umum.
Akan tetapi, saat melihat penampilan Oxxy 63 pada saat peluncuran album perdana, Charetz ‘06 di Hard Rock Cafe, minggu lalu - ketiga personelnya seakan ingin unjuk diri selaku pemusik Emo sejati, yang tak sekadar bersuara Emo, namun juga berpenampilan lifestyle Emo.
Seorang wartawati langsung menyebut penampilan mereka anak muda banget. Mungkin memang begitu kenyataan saat ini ketika anak muda seperti terwakili dengan gaya atau dandanan sejenis itu.
Oxxy 63 terdiri dari Daus (vokal), Davis (gitar) dan Arie (drum) ditambah dengan basis Reza sebagai pemain pendukung. Oxxy 63 resmi berdiri di Bandung pada 30 Maret tahun lalu. Mereka menyebut kelengkapan genre musiknya sebagai Pop Emotional Melodic.
Kenapa memakai nama Oxxy, dimaksudkan mereka sebagai bagian kebanggaan kaum lelaki (pejantan: bahasa latin). Tentang imbuhan angka 63 atau sixty three diartikan dari tanggal lahir, bulan dan tahun kelahiran Oxxy yakni tanggal 30 bulan 3 tahun ‘06.
Menurut mitos mereka, tanggal tersebut diapit oleh dua pergantian tahun atau tahun baru. Tanggal 29 Maret merupakan pergatian tahun China, dan tanggal 31 Maret adalah pergantian tahun baru Hijriah. Maka ”30-03-06” adalah unsur angka 3 dan 6, namun oleh mereka sengaja dibalikkan jadi 63.
Untuk album perdananya, mereka menghadirkan sebelas lagu, salah satunya adalah ”Memori Bangku Taman” yang bermaksud memantapkan kepekatan performa musik mereka yang ternyata mampu menembus kisi-kisi universalitas.
Namun, di balik itu mereka juga berhasrat memainkan ciri easy listening yang mudah dikenali publik melalui lagu andalan kedua,”Ambisi Sesaat” dan ”Kucing”.
Mengenai tajuk album Charetz ‘06, mereka menghubungkannya dengan ikon pohon karet yang berada di halaman depan gedung sekolah SMA Negeri 2 Bandung, tempat dulu mereka pernah menimba ilmu pengetahuan. (john js)

No comments:
Post a Comment