Satu malam yang dingin, kata orang-orang. Tapi di kamar saya panas. Panas karena pikiran-pikiran saya terantuk-antuk batu pemikiran. Disini ada teman saya yang bernama Galih. Seorang nomaden, yang kerjaannya membuat lagu dan menggung di panggung-panggung kecil. Dan saat ini kami tengah membicarakan sesuatu yang panas, bukan masalah gaya bercinta Miyabi, tapi tentang sesuatu yang menurut kalian pasti enggak seru: “Njir, gua teh orang mana?”
Sebetulnya, kita tengah membicarakan identitas kita masing-masing. Karena saya dan Galih merasa telah kehilangan identitas lokal kita. “Kita” disini bukan saya dan Galih saja, tapi juga kalian yang membaca tulisan ini, juga anak muda lain, dan orang-orang tua yang lain, serta anak-anak baik yang telah dilahirkan atau belum.
Mari kita tengok anak-anak muda di Bandung. Di mal, Distro, FO, atau di kantung-kantung tempat berkumpul lainnya, apakah kita dapat melihat identitas lokal melekat pada mereka? Saya maklum jika kalian menjawab iya. saya juga masih menganggap, budaya lokal anak Bandung yang berarti sunda, masih ada. Setidaknya dari pemakaian bahasa sunda, itupun telah bercampur-campur dengan bahasa lain terutama bahasa betawi, yang sekarang menjadi ikon pergaulan.
Jangan tanyakan lagi masalah gaya pakaian. Anak muda di bandung tengah gandrung dengan desain-desain ala distro. Gaya desainnya sendiri merupakan gaya kecenderungan global. Dan Bandung, merupakan kota di Indonesia yang paling cepat menyerap budaya global, dulu ada teman saya yang bilang begitu. Mungkin karena sejak zaman Belanda, Bandung memang dijadikan tempat yang terbuka bagi pelancong dari barat.
Teman saya yang bernama Galih itu bercerita, kemarin ia jalan-jalan di salah satu mall di Bandung, ia menyaksikan anak muda di sekitarnya bergaya ala band yang tengah naik pamor di belantika musik dunia, rambut potongan ramirez (rambut miring engga berez). Pakaiannya tentu saja khas jiplakan dari tv dan majalah fashion anak muda, kaos ketat, clana jeans ketat dan agak ngatung, serta sepatu keds ala skateboarder. Ironisnya, diantara kerumunan anak muda itu, berjalan dengan santai seorang bule mengenakan kaos bertuliskan “I Love Gamelan”.
Ngomong-ngomong soal gamelan, saat ini saya dan Galih sedang mendengarkan lagu dari sebuah band bernama Zithermania. Tidak, band ini tidak memainkan rock atau emo, saya pun sempat terkecoh dengan namanya yang mentereng dan sepertinya bisa menjadi nama band yang populer. Namun setelah mendengar musiknya, ya tuhan, ini adalah musik etnis sunda campur melayu. Suara kecapi beradu dengan kendang, suara saron dan bonang merancak beradu dengan suara talempong. Ya tuhan ini sebuah perpaduan musik etnis dengan progresifitas jazz. Musiknya indah dan dekat. Namun dimana mereka?
Kata Galih, Zithermania adalah band yang tersusun dari orang-orang Prancis, Denmark dan Indonesia. Mereka tidak ada di Indonesia, mereka merekam materi album mereka bertajuk “Zithermania” di Perancis atau di Swiss. Album mereka ini meraih kepopuleran besar disana. Kata Galih, ada lagi sebuah band yang membawa nuansa etnik, kali ini dicampur dengan rock, metal, jazz dan musik populer lainnya. namanya Discus. Dulu, materi album Discus sempat mampir di kantor Sony Music Indonesia, namun ditolak mentah-mentah. Apa pasal? Ya karena musik Discus mereka pikir tidak akan pernah laku dipasar Indonesia. Kemudian, ada label Swiss yang tertarik menggarap pembuatan album Discus, lalu beredarkah lagu-lagu Discus di kuping orang Swiss dan beberapa bagian Eropa lainnya. Mengejutkan, orang Swiss menganggap lagu-lagu Discus lebih hebat daripada Dream Theatre.
Discus sebetulnya adalah anak-anak Bandung. Melihat fenomena itu, ternyata budaya Indonesia amat digemari oleh orang-orang Perancis dan Swiss. Sementara itu, di Indonesia, anak-anak muda tengah ramai menyanyikan melodi semacam Coldplay dan Chemical Romance.
Saya seperti merasa tersesat, seperti berada di antah berantah. Miris dengan keadaan saya sendiri dan orang-orang seperti saya. Saya tersesat di belantara budaya global, dan bingung mencari identitas. Padahal budaya lokal itu ada di pelupuk mata. Mungkin karena adanya di pelupuk mata itulah kemudian budaya lokal itu jadi tidak kelihatan.
Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa kita seperti enggan menggamit identitas dari budaya lokal kita? Ini bukan permasalahan yang enteng ternyata. Karena permasalahan tercerabutnya budaya lokal berhubungan erat dengan semua sisi kehidupan negara kita yang setelah dipikir-pikir telah sangat dzolim terhadap budaya lokal.
Ini masalah yang ditimbulkan oleh globalisasi. Kebebasan dalam artian globalisasi, mencengkeram khazanah budaya kita dan membuang jauh-jauh dari ingatan kita. Kita jadi lupa kalau kita punya degung, cianjuran yang ragam musiknya tidak main-main. Tapi kita menjadi hapal diluar kepala lagu-lagu dari Linkin Park atau Justin Timberlake. Kita pun menjadi terbuai dengan alunan Nidji, Ungu dan Radja. Lho, kenapa band-band lokal itu patut dipersalahkan? Dalam permasalahan ini, band-band pop Indonesia patut diperasalahkan karena mereka terlena dengan budaya global yang membuat diri mereka populer lalu lupa bahwa di sekeliling mereka juga ada musik lokal yang hampir punah karena terpojok oleh musik yang Radja, Ungu, Dewa dan Ratu usung.
Globalisasi adalah penyeragaman. Lewat penetrasi modal dan propaganda media, seluruh dunia dipaksa mendengarkan musik yang populer di negara yang mempunyai modal yang mempengaruhi dunia. Gampangnya, Amerika dan Eropa.
Lawan dari penyeragaman adalah keberagaman. Indonesia sebetulnya punya potensi untuk melawan penyeragaman, namun potensi itu tidak diproteksi oleh pemerintah kita. Pemerintah cuek saja tv kita berbuat tidak adil dengan terus mengakomodir penayangan pengaruh barat sedangkan hal-hal yang berbau lokal minim sekali persentase tayangnya.
Pasar memang tidak kenal rasa kasihan terhadap budaya lokal. Mungkin jika dipersalahkan seperti itu, label akan menampik sambil marah-marah: kita kan mengangkat band-band lokal! Kenapa kita dibilang melalaikan budaya lokal?! Itulah salah kaprahnya orang-orang Indonesia, mengangkat band lokal, bukan berarti mengangkat budaya lokal.
Ini memang akhirnya menjadi permasalahan ekonomi dan politik. Namun jangan salah sangka dulu, permasalahan counter ekonomi dan politik akan menjadi amat mudah dengan penguasaan budaya. Toh, ngapain memasarkan lagu Avril Lavigne jika orang Indonesia lebih suka musik Melayu? Jadi buatlah orang Indonesia suka musik pop orang-orang barat dulu, maka industri musik orang-orang barat itu akan berkembang di Indonesia. Sialnya, berkembangnya industri musik barat di Indonesia dianggap sebagai sebuah kemajuan di bidang investasi. Mungkin itu memang benar, namun, selayaknya bangsa yang mudah dobodohi, kemudian bangsa kita terhanyut dengan keuntungan dari investasi di bidang musik populer. Dan melupakan khazanah musik lokal kita.
Musik lokal tidak mati memang. Namun hidupnya tidak sehat dan cenderung cacat. Musik-musik lokal masih dimainkan Didi Kempot, Doel Sumbang dan lainnya. namun, kualitas rekamannya menjijikan. Lagipula, kebanyakan pelantun tembang lokal kita akhirnya memadukan musik lokal dengan mudik pop namun dengan gaya yang prematur. Jadinya, bukan malah menjadi sebuah improvisasi yang bernilai tinggi, sebaliknya, menjadi semakin menjijikan.
Musik lokal, kemudian tidak mendapatkan tempat dihati anak muda karena terlanjur terlihat menjijikan. Karena kualitas rekaman yang butut, video klip abal-abal, dan terkesan musik rendahan. Memang akhirnya masalah pencitraan bermain. Dan musik pop barat telah bermain cantik mengibuli kuping dan otak-otak kita yang bodoh.
Citra musik lokal yang turun, kemudian menghancurkan identitas lokal kita. Karena identitas lokal itu terenggut oleh dominasi budaya global. Lagi-lagi, saya harus menyalahkan media massa di negara kita yang tidak punya rasa tanggung jawab terhadap budaya lokal kita dengan tidak memberikan ruang yang cukup biar kita tahu bahwa kita tinggal di wilayah sunda, atau jawa, atau melayu, atau dayak, dan kita memiliki budaya kita yang sangat unik dan asik.
Teman saya bilang, enggak mungkin musik etnis bisa didengerin sama anak muda, masalahnya budaya kita udah terlanjur ngekor ke barat. Ah, menurut saya tidak juga. Ngomongin masalah musik adalah ngomongin budaya pop. Apa yang ngepop, itulah yang akan didengar dan digandrungi. Permasalahannya, musik-musik semacam rock, pop, emo, melodic dan lain-lain, telah berhasil menjadi musik yang pop di negeri kita. Musik etnis telah tersingkir.
Dan musik pop harus dilawan dengan musik pop. Permasalahnnya adalah musik etnis sampai sekarang tidak bisa menjadi musik pop. Tapi tunggu dulu, sekarang ini sudah ada beberapa grup musik yang mengangkat musik etnis menjadi ke permukaan. Tohpati membuat band Simak Dialog yang ngejazz, lalu ada Bali Lounge yang memadukan musik Bali dengan jazz dan pop, dan yang menurut saya sangat unik adalah Bossanova Java yang melantunkan tembang Jawa semacam Stasiun Balapan dengan musik Bossanova.
Mungkin akan cukup pelan namun pasti, bahwa para musisi yang punya idealisme mengangkat musik etnis akan diterima oleh label musik di Indonesia yang dzolim itu. Gejalanya telah tampak. Dengan dukungan kita semua, rasanya musik etnis juga akan bisa punya tempat di kuping kita.
Tulisan ini adalah keresahan saya, dan juga Galih yang telah bertekad akan mengabdi pada musik etnis dan balada. Kami hanya sangat menyayangkan jika musik-musik etnis yang sangat kaya raya hilang dari peradaban Indonesia atau peradaban dunia. Bayangkan saja jika orang Zimbabwe kehilangan musik etnisnya, orang Solo kehilangan musik etnisnya, orang Brazil kehilangan musik etnisnya. Rasanya membosankan jika kita hanya mendengarkan musik pop yang itu-itu saja. Tidak ada alternatif.
Kemudian saya dan Galih berangan-angan, gamelan dimainkan di panggung pensi SMA, distro memasarkan kaos dengan desain ala batik, dan bendo menjadi topi pergaulan. Anak muda tidak jijik dengan budaya lokalnya, dan menganggap band semacam Muse atau Panic at the Disco tidak berbeda dengan band Sabah Habas Mustapha atau Samba Sunda yang menyanyikan lagu etnis sunda dicampur jazz dan pop. Semoga.
dimuat di POT "media segala pendapat"
Sebetulnya, kita tengah membicarakan identitas kita masing-masing. Karena saya dan Galih merasa telah kehilangan identitas lokal kita. “Kita” disini bukan saya dan Galih saja, tapi juga kalian yang membaca tulisan ini, juga anak muda lain, dan orang-orang tua yang lain, serta anak-anak baik yang telah dilahirkan atau belum.
Mari kita tengok anak-anak muda di Bandung. Di mal, Distro, FO, atau di kantung-kantung tempat berkumpul lainnya, apakah kita dapat melihat identitas lokal melekat pada mereka? Saya maklum jika kalian menjawab iya. saya juga masih menganggap, budaya lokal anak Bandung yang berarti sunda, masih ada. Setidaknya dari pemakaian bahasa sunda, itupun telah bercampur-campur dengan bahasa lain terutama bahasa betawi, yang sekarang menjadi ikon pergaulan.
Jangan tanyakan lagi masalah gaya pakaian. Anak muda di bandung tengah gandrung dengan desain-desain ala distro. Gaya desainnya sendiri merupakan gaya kecenderungan global. Dan Bandung, merupakan kota di Indonesia yang paling cepat menyerap budaya global, dulu ada teman saya yang bilang begitu. Mungkin karena sejak zaman Belanda, Bandung memang dijadikan tempat yang terbuka bagi pelancong dari barat.
Teman saya yang bernama Galih itu bercerita, kemarin ia jalan-jalan di salah satu mall di Bandung, ia menyaksikan anak muda di sekitarnya bergaya ala band yang tengah naik pamor di belantika musik dunia, rambut potongan ramirez (rambut miring engga berez). Pakaiannya tentu saja khas jiplakan dari tv dan majalah fashion anak muda, kaos ketat, clana jeans ketat dan agak ngatung, serta sepatu keds ala skateboarder. Ironisnya, diantara kerumunan anak muda itu, berjalan dengan santai seorang bule mengenakan kaos bertuliskan “I Love Gamelan”.
Ngomong-ngomong soal gamelan, saat ini saya dan Galih sedang mendengarkan lagu dari sebuah band bernama Zithermania. Tidak, band ini tidak memainkan rock atau emo, saya pun sempat terkecoh dengan namanya yang mentereng dan sepertinya bisa menjadi nama band yang populer. Namun setelah mendengar musiknya, ya tuhan, ini adalah musik etnis sunda campur melayu. Suara kecapi beradu dengan kendang, suara saron dan bonang merancak beradu dengan suara talempong. Ya tuhan ini sebuah perpaduan musik etnis dengan progresifitas jazz. Musiknya indah dan dekat. Namun dimana mereka?
Kata Galih, Zithermania adalah band yang tersusun dari orang-orang Prancis, Denmark dan Indonesia. Mereka tidak ada di Indonesia, mereka merekam materi album mereka bertajuk “Zithermania” di Perancis atau di Swiss. Album mereka ini meraih kepopuleran besar disana. Kata Galih, ada lagi sebuah band yang membawa nuansa etnik, kali ini dicampur dengan rock, metal, jazz dan musik populer lainnya. namanya Discus. Dulu, materi album Discus sempat mampir di kantor Sony Music Indonesia, namun ditolak mentah-mentah. Apa pasal? Ya karena musik Discus mereka pikir tidak akan pernah laku dipasar Indonesia. Kemudian, ada label Swiss yang tertarik menggarap pembuatan album Discus, lalu beredarkah lagu-lagu Discus di kuping orang Swiss dan beberapa bagian Eropa lainnya. Mengejutkan, orang Swiss menganggap lagu-lagu Discus lebih hebat daripada Dream Theatre.
Discus sebetulnya adalah anak-anak Bandung. Melihat fenomena itu, ternyata budaya Indonesia amat digemari oleh orang-orang Perancis dan Swiss. Sementara itu, di Indonesia, anak-anak muda tengah ramai menyanyikan melodi semacam Coldplay dan Chemical Romance.
Saya seperti merasa tersesat, seperti berada di antah berantah. Miris dengan keadaan saya sendiri dan orang-orang seperti saya. Saya tersesat di belantara budaya global, dan bingung mencari identitas. Padahal budaya lokal itu ada di pelupuk mata. Mungkin karena adanya di pelupuk mata itulah kemudian budaya lokal itu jadi tidak kelihatan.
Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa kita seperti enggan menggamit identitas dari budaya lokal kita? Ini bukan permasalahan yang enteng ternyata. Karena permasalahan tercerabutnya budaya lokal berhubungan erat dengan semua sisi kehidupan negara kita yang setelah dipikir-pikir telah sangat dzolim terhadap budaya lokal.
Ini masalah yang ditimbulkan oleh globalisasi. Kebebasan dalam artian globalisasi, mencengkeram khazanah budaya kita dan membuang jauh-jauh dari ingatan kita. Kita jadi lupa kalau kita punya degung, cianjuran yang ragam musiknya tidak main-main. Tapi kita menjadi hapal diluar kepala lagu-lagu dari Linkin Park atau Justin Timberlake. Kita pun menjadi terbuai dengan alunan Nidji, Ungu dan Radja. Lho, kenapa band-band lokal itu patut dipersalahkan? Dalam permasalahan ini, band-band pop Indonesia patut diperasalahkan karena mereka terlena dengan budaya global yang membuat diri mereka populer lalu lupa bahwa di sekeliling mereka juga ada musik lokal yang hampir punah karena terpojok oleh musik yang Radja, Ungu, Dewa dan Ratu usung.
Globalisasi adalah penyeragaman. Lewat penetrasi modal dan propaganda media, seluruh dunia dipaksa mendengarkan musik yang populer di negara yang mempunyai modal yang mempengaruhi dunia. Gampangnya, Amerika dan Eropa.
Lawan dari penyeragaman adalah keberagaman. Indonesia sebetulnya punya potensi untuk melawan penyeragaman, namun potensi itu tidak diproteksi oleh pemerintah kita. Pemerintah cuek saja tv kita berbuat tidak adil dengan terus mengakomodir penayangan pengaruh barat sedangkan hal-hal yang berbau lokal minim sekali persentase tayangnya.
Pasar memang tidak kenal rasa kasihan terhadap budaya lokal. Mungkin jika dipersalahkan seperti itu, label akan menampik sambil marah-marah: kita kan mengangkat band-band lokal! Kenapa kita dibilang melalaikan budaya lokal?! Itulah salah kaprahnya orang-orang Indonesia, mengangkat band lokal, bukan berarti mengangkat budaya lokal.
Ini memang akhirnya menjadi permasalahan ekonomi dan politik. Namun jangan salah sangka dulu, permasalahan counter ekonomi dan politik akan menjadi amat mudah dengan penguasaan budaya. Toh, ngapain memasarkan lagu Avril Lavigne jika orang Indonesia lebih suka musik Melayu? Jadi buatlah orang Indonesia suka musik pop orang-orang barat dulu, maka industri musik orang-orang barat itu akan berkembang di Indonesia. Sialnya, berkembangnya industri musik barat di Indonesia dianggap sebagai sebuah kemajuan di bidang investasi. Mungkin itu memang benar, namun, selayaknya bangsa yang mudah dobodohi, kemudian bangsa kita terhanyut dengan keuntungan dari investasi di bidang musik populer. Dan melupakan khazanah musik lokal kita.
Musik lokal tidak mati memang. Namun hidupnya tidak sehat dan cenderung cacat. Musik-musik lokal masih dimainkan Didi Kempot, Doel Sumbang dan lainnya. namun, kualitas rekamannya menjijikan. Lagipula, kebanyakan pelantun tembang lokal kita akhirnya memadukan musik lokal dengan mudik pop namun dengan gaya yang prematur. Jadinya, bukan malah menjadi sebuah improvisasi yang bernilai tinggi, sebaliknya, menjadi semakin menjijikan.
Musik lokal, kemudian tidak mendapatkan tempat dihati anak muda karena terlanjur terlihat menjijikan. Karena kualitas rekaman yang butut, video klip abal-abal, dan terkesan musik rendahan. Memang akhirnya masalah pencitraan bermain. Dan musik pop barat telah bermain cantik mengibuli kuping dan otak-otak kita yang bodoh.
Citra musik lokal yang turun, kemudian menghancurkan identitas lokal kita. Karena identitas lokal itu terenggut oleh dominasi budaya global. Lagi-lagi, saya harus menyalahkan media massa di negara kita yang tidak punya rasa tanggung jawab terhadap budaya lokal kita dengan tidak memberikan ruang yang cukup biar kita tahu bahwa kita tinggal di wilayah sunda, atau jawa, atau melayu, atau dayak, dan kita memiliki budaya kita yang sangat unik dan asik.
Teman saya bilang, enggak mungkin musik etnis bisa didengerin sama anak muda, masalahnya budaya kita udah terlanjur ngekor ke barat. Ah, menurut saya tidak juga. Ngomongin masalah musik adalah ngomongin budaya pop. Apa yang ngepop, itulah yang akan didengar dan digandrungi. Permasalahannya, musik-musik semacam rock, pop, emo, melodic dan lain-lain, telah berhasil menjadi musik yang pop di negeri kita. Musik etnis telah tersingkir.
Dan musik pop harus dilawan dengan musik pop. Permasalahnnya adalah musik etnis sampai sekarang tidak bisa menjadi musik pop. Tapi tunggu dulu, sekarang ini sudah ada beberapa grup musik yang mengangkat musik etnis menjadi ke permukaan. Tohpati membuat band Simak Dialog yang ngejazz, lalu ada Bali Lounge yang memadukan musik Bali dengan jazz dan pop, dan yang menurut saya sangat unik adalah Bossanova Java yang melantunkan tembang Jawa semacam Stasiun Balapan dengan musik Bossanova.
Mungkin akan cukup pelan namun pasti, bahwa para musisi yang punya idealisme mengangkat musik etnis akan diterima oleh label musik di Indonesia yang dzolim itu. Gejalanya telah tampak. Dengan dukungan kita semua, rasanya musik etnis juga akan bisa punya tempat di kuping kita.
Tulisan ini adalah keresahan saya, dan juga Galih yang telah bertekad akan mengabdi pada musik etnis dan balada. Kami hanya sangat menyayangkan jika musik-musik etnis yang sangat kaya raya hilang dari peradaban Indonesia atau peradaban dunia. Bayangkan saja jika orang Zimbabwe kehilangan musik etnisnya, orang Solo kehilangan musik etnisnya, orang Brazil kehilangan musik etnisnya. Rasanya membosankan jika kita hanya mendengarkan musik pop yang itu-itu saja. Tidak ada alternatif.
Kemudian saya dan Galih berangan-angan, gamelan dimainkan di panggung pensi SMA, distro memasarkan kaos dengan desain ala batik, dan bendo menjadi topi pergaulan. Anak muda tidak jijik dengan budaya lokalnya, dan menganggap band semacam Muse atau Panic at the Disco tidak berbeda dengan band Sabah Habas Mustapha atau Samba Sunda yang menyanyikan lagu etnis sunda dicampur jazz dan pop. Semoga.
dimuat di POT "media segala pendapat"

No comments:
Post a Comment